Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Bokeb Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Dia tidak bercerita apa-apa. ” katanya. “ Mbak Fera.., aku mau makan dulu. Pintu salon kubuka. Tunggu apa lagi. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya. Kali ini dengan telapak tangan. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ah, Aku terlambat setengah jam. Tetapi, aku harus berani. Setelah beberapa lama menyodoknya, “ Terus dong Yang. Kadang-kadang ketimun. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Dulu aku paling anti masuk salon.




















