Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul delapan malam.Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. “Mur, naik ke meja dong?”, Katanya sambil mendirikan tubuhku. Bokep Arab Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di dadanya.“Mur, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?” Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal.“Well, sebenarnya iya sih…, boleh nggak aku copot blazernya?”“Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Padahal orangnya biasa saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini.Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar.











