“Maafkan aku, Santi.. Bokep Cina Aku akhirnya meyakinkan Eksanti bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja.Akhirnya Eksanti mengalah. kan?”, akhirnya Eksanti mau mulai membuka pembicaraan juga. Banyak teman-temanku lain yang juga berpendapat begitu. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Eksanti, bukannya orang lain. “Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi..” kalimatnya terputus. Seketika aku mengangkat telepon itu. Aku memeluk tubuh Eksanti sehingga batang kejantananku menyentuh pusarnya. Aku tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya.




















