Aku pun sudah telanjur ingin melihat Prima ceria seperti dulu lagi. “Pri…bunda ingin kamu jawab sejujur- jujurnya ya,” kataku sambil menepuk lutut Prima yang saat itu mengenakan celana pendek abu-abu dan baju kaus oblong putih. Bokeb Kang Eman justru tetap berpatokan pada pola-pola tradisional. Tapi aku berusaha untuk menindas perasaan kesepianku dengan mencari kegiatan di rumah. Karena pasti ia akan tersiksa dibuatnya nanti. Kuperiksa isi laptop itu. Kapan semi finalnya dimulai ?” tanyaku. Lalu terdengar suaranya ragu,
“Kalau saya berterus terang, pasti Bunda marah.”
“Gak,” sahutku,
“bunda janji, kamu ngomong apa pun bunda takkan marah.” Prima menatapku, masih bersorot sangsi. Tapi seketika itu juga berusaha menguasai diriku sendiri. Pertanyaan itu pun makin membulat. “Iya.” Lalu aku melangkah menuju kamarku.Tanpa mengetahui apa yang akan terjadi nanti.




















