“Ke rumah…?”, tanyaku memastikan. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Bokep Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. Perlu diketahui, aku memperoleh anjing itu dan Mas Herman, suaminya Mbak Indri. Bahkan aku tetap tidak peduli meskipun Linda menggeser duduknya hingga hampir merapat denganku. Tapi tidak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri. Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya.“Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Maya. Kalau mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut menatap tubuh yang polos dan indah itu. Padahal aku sudah punya mobil. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa.




















