Harum payudaranya semakin menyengat hidungku, puting yang kemerahan semakin mencuat.Aku menatapnya untuk memantapkan pergumulan kami, tapi aku hanya melihat mata Sava yang tertutup dengan bibir yang dia gigit sendiri. Dan kini kami manfaatkan waktu yang ada untuk melepaskan rindu.Aku merebahkan tubuhku di hamparan padang ilalang yang tingginya melebihi tinggiku. Bokep China atau jika nyawaku ini terlalu murah untuk ditukar oleh keselamatan Sava, silahkan hapus ingatan Sava tentang diriku, aku rela dia melupakanku untuk ditukar dengan keselamatannya. Sava tersenyum menyambutku datang lalu memberi isyarat dengan tangannya agar aku duduk di sampingnya.“Buat apa sih kamu bikinin aku teh anget ?” aku sedikit ketus.“Biar anget, kan kita abis ke hujanan,” Sava sedikit sewot, memajukan bibirnya yang menggemaskan, “gak pake nyolot juga kali nanyanya… huh.”“Lah gimana gak nyolot coba, aku tuh gak butuh teh ataupun apalah-apalah untuk sekedar menghangatkanku.




















